Ibuku Guru Mengaji

Dua belas siang saya baru terbangun. kamarku yang bearantakan seperti tempat sampah, ukurannya dua kali tiga meter kabel kabel, puntung puntung rokok, kertas kertas, segala macam barang barang bekas terkumpul di kamarku. bahkan jika kita mengumpulkan pasir pasir di kamarku maka akan terkumpul se ember pasir. biasanya setahun sekali kubersihkan “tempat sampah” itu, kalian bisa bayangkan berapa banyak sampah yang terkumpulkan selama setahun itu.

Bukan hanya sampah tapi berbagai macam serangga dari yang berkaki dua sampai yang berkaki delapan, mereka dengan senang membangun rumah tangganya di kamarku. atapnya yang rendah membuat “tempat sampah” ku itu sangat panas disiang hari, panas itu yang membangunkanku setiap hari jam yang sama, jam dua belas siang.

Sebenarnya setiap hari ibu ku membangunkan kami. 5.30 pagi ibu ku akan membangunkan kami semua, disebutkanlah nama anak anaknya satu persatu, dari yang tertua sampai yang termuda itu biasanya di ulangi sampai dua kali tidak pernah cukup tiga kali, mungkin karena ibu ku paham jika anak anak nya tak menjawab panggilan orang tua selama tiga kali maka anaknya akan berdosa, dia tak ingin anak anak nya berdosa karena tak menjawab panggilannya. tapi tidak untuk anak ketiganya, anak tergagahnya, anak terkerennya, anak terbandelnya, anak yang tak pernah mau di atur, anak laki laki satu satunya yang tidak pernah mau terbangun walaupun sampai dibangun kan berkali kali.

” nak bangun..!!!”

“Sholat Subuh..!!!”

teriak ibuku, sambil sengaja membanting banting panci di dapur agar terdengar ribut.

Namaku kadang disebut sampai tiga puluh tiga kali, seperti mengucapkan dzikir, sungguh betapa berdosa anak laki laki yang serba “ter” itu.

selain neraka (kata orang orang neraka itu panas, mungkin mereka sudah pernah kesana) tidak ada yang mampu mengalahkan panas jam dua belas siang dikamarku, ditambah lagi rambut panjang yang menambah panas suhu tubuh, gerah. kulihat kamarku masih berantakan seperti tempat sampah, padahal ku pikir semalam sudah datang sekelompok kurcaci membersihakan kamarku (seperti dalam dongeng), seperti yang ku mimpikan semalam.

orang orang di rumah sudah tak ada yang tersisa, sejak pagi tadi mereka semua beraktifitas, ayah ku dengan semangat ke tempat kerjanya, adik perempuanku berangkat kesekolah dengan muka murung (karena tak kuantar) dua orang kakakku sudah tak kulihat lagi dirumah, entah kemana, yang tersisa ibuku dan anak laki laki satu satunya yang serba “ter” ini.

Kulihat ibuku duduk diruang tamu dengan kacamatanya dan Alquran di depannya. dia melihat ke arahku,

“sudah bangun nak, kau sudah makan” tdk kujawab pertanyaannya, karena ku tau itu pertanyaan basa basi. kubaringkan tubuhku dipangkuan ibuku, kusnadarkan kepalaku diphanya, tanganya mengusap usap kepalaku, Alquran masih tetap dibacanya. panas, gerah hilang dikalahakan kesejukan ibuku, kembali saya tertidur sampai beberapa muridnya datang, muridnya yang berumur sebaya ibuku bahkan ada yang lebih tua dari ibuku.

jika melihat anak laki laki satu satunya ini, kumal, celana jeans robek kiri kanan, baju kaos yang tak dicuci selama seminggu masih dipakai, rambut pajang yang tak pernah sedikitpun tersentuh sisir, bahkan jika disisir beribu ribu kalipun tak akan pernah lurus, orang orang tak akan percaya bahwa ibuku adalah seorang guru mengaji.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: